banner 728x250
Berita  

Ketua Yayasan Delisha Klarifikasi Isu Jual Beli Titik, Tegaskan Tetap Fokus Sukseskan Program MBG

banner 120x600
banner 468x60

ADHIYAKSAnews.com//MEDAN – Ketua Yayasan Delisha, Arief Winarto, akhirnya angkat bicara terkait narasi jual beli titik senilai 660 juta yang beredar di salah satu media sosial. Arief menegaskan tudingan tersebut keliru karena uang 660 juta merupakan bagian dari kerja sama pembangunan dapur, bukan transaksi jual beli titik.

Menurut Arief, Yayasan Delisha selama ini fokus menjalankan kerja sama dengan sejumlah mitra dalam mendukung pelaksanaan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG). Pembangunan satu dapur, kata dia, membutuhkan investasi sedikitnya 1,5 miliar, sehingga transaksi 660 juta merupakan bagian dari kebutuhan pembangunan yang memang telah dituangkan dalam kerja sama, dengan skema serupa yang menurutnya juga lazim dijalankan yayasan-yayasan lain dalam pelaksanaan MBG.

banner 325x300

“Kalau membangun satu dapur saja membutuhkan minimal 1,5 miliar, tentu 660 juta bukan angka yang aneh dalam sebuah kerja sama pembangunan. Yang aneh justru bukti transfer itu sekarang dipotong konteksnya dan dipelesetkan seolah-olah menjadi transaksi jual beli titik,” kata Arief.

Arief menjelaskan, kerja sama tersebut sejak awal merupakan kerja sama pembangunan dan penyiapan dapur, dengan pembagian kewenangan, tanggung jawab serta kebutuhan pembiayaan masing-masing pihak sebagaimana dituangkan dalam dokumen kerja sama.

Dalam skema tersebut, pihak mitra memiliki kewajiban senilai 660 juta sebagai bagian dari kebutuhan pembangunan dan penyiapan dapur. Nilai itu, menurut Arief, hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan investasi pembangunan satu dapur yang sedikitnya membutuhkan dana sekitar 1,5 miliar.

Persoalan bermula ketika IYS, yang disebut bekerja di Dipo Mitsubishi Sisingamangaraja, Medan, membawa sejumlah rekannya yang bermaksud kerja sama dengan Yayasan untuk menjadi mitra. Namun, menurut Arief, nilai 660 juta yang menjadi bagian kewajiban mitra tersebut justru diduga ditambah 167,5 juta oleh IYS tanpa sepengetahuanya.

“Kesepakatannya jelas, kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak juga ada dalam dokumen. Bagian mitra 660 juta. Tetapi kepada rekannya sendiri diduga ditambah lagi 167,5 juta. Saya tidak pernah menyetujui tambahan itu, begitu saya mengetahuinya langsung saya minta dikembalikan” tegas Arief.

Arief juga mengaku sempat risih karena dalam beberapa komunikasi IYS diduga merekam pembicaraan secara diam-diam dan kemudian pernah menunjukkan potongan rekaman tersebut kepadanya.

“Saya tidak pernah merasa berbicara macam-macam di luar substansi kerja sama. Jadi kalau potongan rekaman itu dimaksudkan untuk membuat saya tertekan, tentu saya tidak terpengaruh,” ujarnya.

Arief juga mengungkap, sebelum persoalan mencuat di media sosial, IYS sempat menunjukkan grup WhatsApp dengan membawa-bawa nama Kepala BPKP Sumut, petinggi kepolisian hingga wartawan dari media ternama. Namun setelah ditelusuri Arief, ia mengaku mendapati nama-nama tersebut tidak benar sebagaimana kesan yang ditampilkan. Bahkan, Arief menduga sejumlah nomor yang menggunakan nama pihak-pihak tersebut sebenarnya dikendalikan oleh IYS sendiri untuk menimbulkan kesan memiliki backing dan membuatnya tertekan.

“Saya telusuri sendiri dan ternyata tidak seperti yang digambarkan. Saya menduga nama-nama itu sengaja dipasang pada nomor tertentu untuk menakut-nakuti saya. Kalau memang ada persoalan kerja sama, bicara substansinya. Jangan membawa-bawa nama pejabat, kepolisian ataupun wartawan untuk membangun kesan seolah-olah punya backing,” tegas Arief.

Arief menambahkan, persoalan dengan skema mitra tersebut hanya terjadi pada satu dapur yang dalam prosesnya ada terlibat IYS, sementara dapur-dapur lain yang dikelola maupun dikerjasamakan Yayasan Delisha berjalan sebagaimana mestinya tanpa persoalan. Menurutnya, hal itu menunjukkan persoalan yang muncul bukan pada pola kerja Yayasan secara keseluruhan, melainkan pada satu kerja sama yang di dalam prosesnya terdapat peran IYS.

Arief menegaskan tidak ingin larut dalam perang opini maupun framing di media sosial. Pihaknya memilih tetap berpegang pada dokumen-dokumen kerja sama yang telah disepakati serta menjalankan setiap kerja sama secara profesional.

“Bagi kami, yang menjadi pegangan adalah dokumen kerja sama dan komitmen yang telah disepakati para pihak, bukan potongan narasi di media sosial. Yayasan akan tetap fokus menjalankan setiap kerja sama secara profesional, serta berkontribusi dalam mendukung dan menyukseskan program MBG,” pungkas Arief.red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *